27.8 C
Jakarta
Tuesday, May 21, 2024

Kisah Inspiratif : Subhash Sharma Orang India Pertama Keliling Dunia Naik Motor #1

Kisah luar biasa ini menandai peringatan 50 tahun orang India pertama kali berkeliling dunia naik motor  pertama kali Pada tahun 1972, yaitu Subhash Sharma dan tiga temannya berkendara sejauh 67.000 mil melintasi dunia dengan motor Royal Enfield

Automoto – Subhash Sharma dan teman-tamannya melakukan perjalanan ini namun saat itu minim pemberitaan bila dibandingkan dengan jaman sekarang ini. kisah ketekunan mereka ini menunjukkan kepada kita sekalia bahwa betapa mudahnya saat dijaman modern ini untuk melakukan apapun.

Bagaimana awal mulanya melakukan perjalanan

Saat itu hari Minggu pagi di Jamshedpur, India tahun 1969, Subhash Sharma sedang kongkow di kedai mimum teh bersama teman-tamannya, lalu ide untuk berkeliling dunia dengan motor itu muncul. Pada saat itu perjalanan dengan motor masih belum pernah terdengar di India.

Meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan, Ia tetap tidak bisa menghilangkan gagasan yang ada dibenaknya ini, Subhash yakin bahwa mereka bisa melakukannya dan tetap untuk memulai melakukan riset terlebih dahulu.

Saat mereka berkumpul kembali, Shubhash Sharma menunjukkan temuannya kepada ke-3 temannya atas keseriusan yang ia miliki. dan mereka bertiga mendukung serta akan menemaninya berkeliling dunia, ide gila tersebut ternyata berawal dari obrolan di kedai teh tempat biasa mereka konkow. dan akhirnya ke-4 orang tersebut menjadi catatan sejarah India sebagai orang pertama yang berkeliling dunia dengan menggunakan motor.

Saat istirahat di Etiopia
Membuat Rencana

Rencana awal mereka untuk meninggalkan India adalah pergi ke arah Pakistan sebelum menyeberang melalui Afganistan dan Iran, dari sana mereka akan melanjutkan perjalanan ke 60 negara, yang mereka perkirakan akan memakan waktu sekitar 18 bulan, namun semakin banyak mereka meneliti, semakin cepat mereka menyadari bahwa keluar dari India akan menjadi tantangan terbesar bagi mereka.

Saat itu ada informasi yang ada, dalam perjalanan mereka tidak bisa membeli buku tentang perjalanan naik motor atau bertanya kepada seseorang melalui internet atau forum-forum anak motor online seperti jaman sekarang ini. 

Perjalanan semacam yang mereka lakukan jarang terjadi, Subhash Sharma harus berbicara dengan orang-orang yang setidaknya bisa memberikan petunjuk jalan kepada mereka, harus mulai dari mana dan melakukan pendekatan kepada petugas-petugas senior di perusahaan mereka untuk bisa bepergian keliling dunia.

Tapi rekan-rekan kerja nya tidak tahu informasi banyak, selain itu mereka juga membutuhkan passport untuk keluar dari India. itulah kendala awal yang mereka alami sebelum berangkat.

Setelah istirahat di Uganda 1971
Masalah passport

Mendapatkan passport di India merupakan sebuah hak istimewa bagi penduduk India pada tahun 1970-an, Meraka harus menjelaskan mengapa membutuhkan passpor dan bila ditolak mereka akan mengusahakan pemerintah mengijiinkan mereka untuk melakukan perjalanan.

Ia tidak tahu bagaimana caranya, bahkan dimana harus mengajukan permohonan ke pemerintah India, Ia menghubungi para pejabat, polisi, politisi dan siapapun yang mau mendengarkannya. akhirnya Ia melakukan perjalanan dengan kereta api selama dua malam ke Kementrian pendidikan di New Delhi untuk menulus surat riancian dan rencana perjalanannya.

Sebulan kemudian Ia diberitahukan bahwa kementrian Pendidikan hanya akan mempertimbangkan masalah tersebut jika dewan Olahraga Negara bagian Bihar (tempat ia tingal) menerima rencananya dan memberikan rekomendasi yang baik terhadap mereka.

istirahat antara Meksiko dan Arizona
Birokarasi semakin Banyak

Pada titik ini, dua orang anggota tim mengundurkan diri karena adanya penundaan, teman lainnya segera bargabung, tetapi mereka masih membutuhkan pengendara lagi, dan dua motor. tetapi yang datang duluan dokumennya, akhirnya Subhash pulang ke Bihar untuk menyampaikan rencana yang lebih matang kepada pejabat senior di dewan Olahraga Bihar.

Mereka terkesan, namun hanya dapat memberi rekomendasi salah satu legenda olahraga olimpiade tahun 1936 yang tinggal di Patna untuk ikut. hanya berbekal nama dan tidak tahu alamatnya butuh waktu 2 hari mereka menjelajahi kota Patna untuk menemukan orang yang ia cari. 

surat rekomendasi

Tuan Haque seorang pejabat olahraga yang sangat dikagumi menyambut mereka di rumahnya dan setelah mendengarkan selama satu jam ia memberikan restu. keesokan harinya Subhash Sharma membawa berkas rekomendasi ke kantor dewan olahraga  untuk melengkapi dokumennyam dua minggu kemudian, kementrian Pendidikan meberi izin untuk melanjutkan perjalanan.

Proses birokrasipun semakin rumit karena harus dikaji terlebih dahulu oleh kementrian Luar negeri dan kementrian keuangan, namun akhirnya disetujui dan mereka sangat bangga memiliki passpor.

PETA

Rintangan kedua adalah mencari tahun rute yang akan dilewati, karena tidak ada buku petunjuk atau peta yang tersedia, Shubhash Sharma melakukan perjalanan dari Jamshedulur ke Kolkata untuk mengunjungi pusat informasi Amerika yang dikelola oleh Konsulat Amerika Serikat, itu lebih mirip perpustakaan, tetapi 10 kali lebih besar dari yang pernah ia miliki dan pernah lihat sebelumnya.

Dan mereka merasa sangat beruntung karena ada peta jalan benua lain yang bisa mereka gunakan untuk merencanakan rute perjalanannya, tapi keberuntungan mereka berhenti disitu karena mereka tidak diperbolehkan membawanya pulang.

istirahat di Kenya 1971

Jadi pada perjalanan Shubhash Sharma dan teman-temannya  melanjutkan perjalanan ke  ke AIC membawa bungkusan kertas dan menghabiskan hari disitu menelusuri semua peta jalan yang mereka butuhkan sambil menuliskan sebanyak mungkin informasi tentang negara-negara tersebut, sekembalinya ke Jamshedpur Ia mengembangkan penelusuran dicetak dan akhirnya mendapatkan peta sesuai rute yang mereka rencanakan.

Persiapan tim kerja

Kini dengan bekal informasi yang sangat banyak menurut mereka, akhirnya Subhash Sarma dan teman-tamannya mengajukan permohonan cuti dari perusahaan tempat mereka bekerja yaitu Tata Engineering and Locomotive co perusahaan besar dengan 24.0000 jiwa karyawan pada tahun 1970. 

Mereka dipanggi ke perusahaan kantor bos mereka dan diwawancarai, seminggu kemudian mereka menyetujui perjalan yang mereka rencanakan, dan tugas terakhir yaitu mencari 2 motor tambahan lagi dan berangkatlah mereka.

Motor yang mereka gunakan

Mereka adalah tim yang terdiri dari empat orang dan akan mengendarai 2 motor, di India mereka biasa berboncengan 2 hingga 3 orang, namun mereka hanya memiliki 1 motor BSA yang sudah usang dan CZ kecil (Jawa) tapi mereka menginginkan setidaknya dua Royal Enfield.

Jadi mereka memutuskan untuk mendekati sekretaris departemen Telco Sports untuk mendapatkan dukungan keuangan. tetapi mereka menolak, dan salah satu dewan bernama Manmohan Singh memutuskan untuk bergabung dengan tim sebagai anggota ke-4 dan dia sudah memiliki Royal Enfield 350 Bullet tahun 1967. karena sumber dana keuangan mereka sedikit, akhirnya membeli royal Enfield 350cc bullet tua tahun 1964 dari biro lelang tentara.

grand Canyon

Paman Manmohan Singh memiliki bengkel servis mobil dan setuju untuk membantu memodifikasi motor yang akan digunakan dengan syarat mereka harus melakukan pekerjaan sendiri dibawah pengawasannya. alsaannya sederhana Paman Mannohan ingin mereka belajar sebanyak mungkin tentang motor, jadi selama perjalanan bila ada masalah bisa diselesaikan sendiri, butuh waktu seminggu untuk mengganti semua part yang aus dan memasangnya kembali.

Kenapa memimilih Royal Enfield

Pada tahun 1960-an, India tidak mengimport motor dari luar negeri dan hanya menyediakan tiga merek, yaitu Rajdoot (WFM Polish) 150cc dengan mesin 2 tak, Kedua motor Jawa (CZ Check Republic) 250cc dua tak, dan ketiga Royal Enfield 350cc 4 tak yang merupakan motor terbesar di India pada saat itu, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan royal Enfield. 

Ternyata Royal Enfield menjadi motor yang hebat dan handal untuk perjalanan mereka, Kuat dan mudah dirawat dimanapun didunia. melewati hujan, salju, pasir serta cuaca panas dan dingin yang ekstrem, mereka yakin ada motor lain yang juga bisa melakukan perjalan seperti ini, tapi Bullet 350cc memang luar biasa.

Walau demikian Subhash Sharma dan tim tidak memodifikasi secara khusus untuk perjalanan mereka hanya menambahkan rak untuk membawa suku cadang karena mereka sadar tidak akan menemukan suku cadang kecuali di India dan Inggris.

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

- Advertisement -

Popular Articles

automoto.id We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications