29.3 C
Jakarta
Friday, July 19, 2024

Rikuo Type 97, Motor Perang Jepang Handal Jaman Perang Dunia Ke-II

Berbicara tentang perang dunia ke-II di Jepang masih merupakan hal yang sensitif, bayangkan mentalitas orang-orang yang merasakan saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. 

Automoto – Pada awal tahun 1930-an, Pemerintah Jepang (Angkatan darat Kekaisaran Jepang) memutuskan untuk secara drastis membatasi Impor tehnologi dan suku cadang asli. 

Terutama untuk kebutuhan industri pertahanan (Strategi), tujuan nasional ditetapkan untuk menciptakan kompleksitas Industri militer sendiri (secara historis, Jepang biasa memenuh kebutuhan pasokan angkatan bersenjatanya dengan mengimpor seluruh sistem persenjataan).

Hal ini disarankan kepada Sankyo Seiyaku, sebuah perusahaan dari Tokyo, bahwa mereka harus mulai mengembangkan segmen alat transportasi bermotor (perusahaan ini masih ada sampai sekarang tetapi memproduksi obat-obatan).

Pada saat itu, permintaan apapun dari militer, dalam istilah praktis, adalah perintah, sehingga tentara Kekaisaran Jepang pada akhirnya menjadi pemilik motor Harley-Davidson 1200cc, L-Head versi nasional yang dirakit hanya dari suku cadang produksi lokal.

Ini menjadi dasar bagi berbagai modifikasi motor yang banyak digunakan oleh militer Jepang hingga akhir perang.

Pada tahun 1932, Sankyo Seiyaku mengirimkan perwakilannya ke Milwaukee, Wisconsin dengan tujuan membeli ijin produksi dan pabrik pembuatan motor seri VL 1200 cc.

Amerika Serikat sedang dilanda krisi ekonomi yang parah, sehingga Harley-Davidson Motor Co yang berada diambang kebangkrutan dengan senang hati menerima tawaran Jepang tersebut.

Bangun Pabrik

Tahun 1933 peralatan pabrik dibongkar dan dikirim ke Jepang untuk dirakit kembali di Kota Kita-Shinagawa, tidak jauh dari Tokyo.

Dana untuk pembelian sebidang tanah, pabrik dan upah 100 pekerja dialokasikan oleh tentara kekaisaran Jepang, dan transaksi ditutup menggunakan perusahaan perantara afiliasi yang terdaftar di Tokyo.

Beberapa ahli teknis dari Harley-Davidson Motors Co pergi ke Jepang untuk memasang pabrik tersebut, pabrik beroperasi dan memulai produksi. 

Harley-Davidson menyediakan semua peralatan manufaktur yang diperlukan, pengiriman awal suku cadang serta diagram alur untuk produksi siklus penuh yang dibayar oleh Sankyo Seiyaku selama 4 tahun.

Produksi lokal juga diluncurkan, tak lama kemudian motor ini dijual sebagai merek Jepang, mereka memberi nama Rikuo Type 97 yang artinya “King of the Road” agar lebih mirip motor lokal. 

Motor Rikuo menjadi sangat populer sehingga pada tahun 1936 keputusan diambil untuk mengubah nama perusahaan afiliasi Sankyo Seiyaku menjadi Rikuo Nainenki co.ltd.

Sejalan dengan kesuksesan pembuatan motor sipil, Rikuo Nainenki mengembangkan versi khusus militernya, dengan menggunakan model mesin 1200cc sebagai basisnya.

Motor ini dilengkapi dengan sespan yang terletak disebelah kiri dan memeiliki roda gigi penggerak untuk roda sespan.

Hal ini dilakukan mengingat lokasi utama operasi militer adalah di Tiongkok dan Manchuria, dengan kondisi tanahnya yang berlumpur, Jepang memulai ekspansinya diwilayah tersebut pada tahun 1931. 

Motor militer tersebut kemudian dikenal dengan nama Rikuo Type 97, motor seri VL dengan mesin 1.200cc dua silnder berbentuk huruf V

Kendaraan ini menjadi alat transportasi utama angkatan darat jepang dan diproduksi oleh beberapa perusahaan lokal hingga akhir perang dunia Ke-II.

Banyak Variasi Motor Militer

Sehingga banyak variasi, seperti panjang sumbu roda dan perlengkapannya , Mazda termasuk salah satu perusahaan produsen tersebut, total motor yang diproduksi sekitar 18.000 unit.

Kembali pada tahun 1936, tahun itu lisensi yang dijual Harley-Davidson ke Jepang pada tahun 1932 telah habis masa berlakunya.

Sehingga perusahaan AS tersebut menawarkan untuk menjual lisensi baru, untuk perakiran motor baru yaitu EL Knucklehead.

Namun perusahaan Rikuo Nainenki KK menolak tawaran ini, mungkin mengikuti gagasan umum yang diungkapkan oleh sebuah pepatah jepang “Jika tidak rusak, Jangan diperbaiki”

Saat Jepang menduduki wilayah Manchuria dan sebagian besar Tiongkok, dan mereka mendirikan sebuah rezim disana yang oleh sumber-sumber Tiongkok saat ini disebut dengan Genosida.

Teori militer saat itu mempertimbangkan kemampuan manuver untuk menjadi hal yang sangat penting bagi unit-unit tentara. 

Beberapa waktu kemudian praktik tersebut dengan cemerlang menegaskan teori ini, setelah keberhasilan serangan kilat Wehrmacht

Dan kendaraan transportasi utama yang digunakan untuk ekspansi adalah kombinasi sespan dan motor. 

 

 

 

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest Articles

- Advertisement -

Popular Articles

automoto.id We would like to show you notifications for the latest news and updates.
Dismiss
Allow Notifications